ARTIKEL
BERKURANGNYA
TINGKAT GEN POPULASI ELANG JAWA

DISUSUN OLEH :
Diah
ila fitriah : 714.7.1.0261
Fatmawati
: 714.7.1.0232
Taufik
kurrahman : 711.7.1.0150
PENDIDIKAN
IPA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
WIRARAJA SUMENEP
2015-2016
Indonesia memiliki 1.539 jenis
burung atau 17% dari seluruh jenis burung yang ada di dunia, sebanyak 9.052
jenis. Menurut laporan Birdlife 1995 ada 104 jenis burung di Indonesia yang
terancam punah. Salah satu jenis burung yang terancam punah adalah Burung Elang
terutama elang Jawa (Spizaetus bartelsi) yang merupakan kebanggaan nasional
karena identik dengan lambang BURUNG GARUDA. Jumlah total Burung Elang Jawa
pada tahun 1995 diperkirakan hanya tinggal 50-60 pasang dan dikategorikan
sebagai burung yang terancam punah yang ada dalam status genting.
Elang Jawa merupakan salah satu
dari jenis burung pemangsa dan satu-satunya yang endemik Indonesia. Karena
daerah penyebarannya hanya meliputi Pulau Jawa. Indonesia mempunyai tanggung
jawab besar dalam upaya pelestarian burung pemangsa tersebut. Elang Jawa
bisa hidup di hutan primer mulai dari ketinggian 0 meter hingga 3000 meter dari
permukaan laut. Akhir-akhir ini keberadaan Elang Jawa semakin terancam punah
dengan adanya perburuan serta perdagangan satwa baik di pasar lokal maupun
internasional. Bahkan dari survey terakhir unit kegiatan mahasiswa bio-explorer
ke pasar lokal elang jawa dapat di perjual belikan secara bebas. Hal ini justru
sangat memprihatinkan mengingat status dari elang jawa itu sendiri.
Dalam hal ini, tentu ada faktor-faktor penyebab kepunahan Elang Jawa ini,
baik karena alam maupun perlakuan manusia dan pastinya juga ada upaya-upaya
pencegahannya.
- Faktor-faktor Penyebab Penyusutan Populasi Elang Jawa
1.
Adanya penambahan hutan yang meliputi penebangan liar,
pembukaan lahan, pembangunan PLTU dan kegiatan wisata. Penebangan pada umumnya
dilakukan untuk memperoleh kebutuhan sehari-hari, namun dibeberapa tempat
terjadi penebangan liar untuk tujuan komersial. Pembukaan lahan dilakukan untuk
pertanian dan perkebunan. Dan dalam kasus yang terjadi adalah membuat bersih
semak belukar yang digunakan Elang berburu mangsa. Pembangunan PLTU terjadi
banyak memakai lahan hutan dan kondisi ini dimanfaatkan oleh penangkap satwa
liar. Adanya perluasan area ke arah hutan habitat Elang Jawa seperti di Curang
Cijalu.
2. perdagangan.
Semua burung
Elang yang ditangkap dijual ke penadah atau pemesan, ada juga yang langsung
dibawa ke pasar burung. Mengingat harga Elang yang cukup tinggi yang bisa
diperoleh oleh penangkap yaitu sekitar 100.000-200.000 rupiah per ekor.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, diduga bahwa penawaran Elang Jawa untuk
diperdagangkan di pasar-pasar burung di Jakarta semakin meningkat (Meyburg dkk
1989, Sozer dan Nijman 1995). Dalam bebarapa survei didapat bahwa sekitar 30-40
ekor Elang Jawa secara terang-terangan ditawarkan di seluruh pasar burung di
Jawa setiap tahunnya (Nursahid dkk 1996). Tentu saja burung-burung tersebut
adalah yang bertahan hidup, yang lain mungkin mati pada waktu penangkapan dan
pengangkutan, dan yang lainnya terjual tanpa dapat ditelusuri.Sementara spesies
ini membuat sarang yang unik, jelas dan mudah dikenal di habitat-habitatnya,
sehingga sangat mudah bagi para pemburu untuk mengambil anaknya.
3. Hilang
dan Rusaknya Habitat
Faktor pembatas Elang
Jawa adalah luas habitat yang sesuai. Pada tahun 1980 tersisa 2590 km2 hutan
dataran rendah dan 2640 km2 hutan pegunungan di Pulau Jawa. Oleh karenanya
tidak dapat dihindari lagi bahwa populasi elang di alam tidak pernah lebih
besar dari daya dukung kawasan berhutan. Tidak diragukan lagi bahwa kawasan ini
relatif sangat sempit, dan tentu saja merosot tajam dari luas kawasan hutan yang
sebelumnya menutupi Pulau Jawa. Selanjutnya hampir semua teritori yang diamati
pada tahun 1997 berada di hutan produksi di luar batas taman nasional, sehingga
pengalihan status kawasan atau pengelolaan kawasan yang memiliki dampak
terhadap kehidupan elang merupakan hal penting yang harus segera ditangani.
Habitat utama di beberapa kawasan pegunungan dan perbukitan akhir-akhir ini
juga terbuka untuk pembangunan, dikuatirkan Elang Jawa tidak dapat berpencar
dengan baik di habitat bukan alaminya, maka akan terjadi isolasi genetik di
antara kantung-kantung habitat yang terfragmentasi dimana mereka bertahan
hidup.
4. Adanya
penggunaan pestisida kimia secara luas di perkebunan dan sawah yang berbatasan
dengan habitat Elang Jawa, karena habitat tersebut kadang dipergunakan Elang
Jawa sebagai tempat berburu mangsa, ada kemungkinan residu kimia akan
terakumulasi di puncak rantai makanannya. Hal tersebut dapat berdampak pada
keberhasilan perkembangbiakan burung tersebut, seperti menyebabkan cangkang
telur menipis, dan ini terjadi di beberapa bagian di Pulau Jawa yang merupakan
habitat Elang Jawa.
- UPAYA-UPAYA PERLINDUNGAN ELANG JAWA
1. Perundang-undangan
Pada tahun 1970 Elang
Jawa bersama burung-burung pemangsa lainnya di Indonesia dilindungi
berdasarkan Surat Keputusan Nomor 421/Kpts/Um/8/1970, dan untuk jenis langka
dan terancam punah mendapat perlindungan tambahan dalam pasal 21 Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 dengan sanksi hukuman denda sebesar
seratus juta rupiah dan hukuman kurungan maksimum 5 tahun. Spesies ini juga
termasuk dalam daftar CITES. Tahun 1993 Presiden Soeharto menetapkan Elang Jawa
sebagai Burung Nasional Republik Indonesia karena kemiripannya dengan Garuda.
2. Kawasan
Lindung Dan Pengelolaan Habitat
Langkah utama terpenting dalam
menyelamatkan Elang Jawa adalah membentuk kawasan lindung di Jawa Tengah di
sekitar Gunung Dieng, Gunung Slamet, kawasan lindung pegunungan Dieng harus
dikhususkan untuk melindungi Elang Jawa sebagai lambang burung nasional
Indonesia. Restorasi habitat yang kondisinya kurang optimum sampai pada tingkat
yang dapat mendukung kebutuhan elang juga perlu diteliti. Beberapa perkebunan
berangsur-angsur perlu dimodififikasikan dengan memanfaatkan koridor sepanjang
aliran-aliran air dan di tempat lain.
3. Pemantauan
Dan Pengawasan Perdagangan
Lembar informasi untuk mengidentifikasi
Elang Jawa perlu diterbitkan dan disebarluaskan kepada masyarakat. Unit khusus
untuk melakukan kunjungan acak di beberapa pasar burung juga perlu dibentuk
serta untuk menyita burung-burung yang dilindungi dan bila diperlukan
dilanjutkan dengan menetapkan denda yang sesuai.
Harus ada pembatasan ketat terhadap
taman-taman burung dan kebun-kebin binatang di Indonesia yang memelihara dan
memamerkan elang, dan lembaga-lembaga ini perlu dipantau. Pemasangan microchip
perlu dipertimbangkan sebagai pemandu individu elang yang dipelihara oleh
lembaga-lembaga ini. Semua Elang Jawa peliharaan perlu didaftarkan sebagai
milik negara.
4. Publisitas
Sebagai satwa nasional kiranya perlu
untuk dipublikasikan secara luas melalui berbagai media cetak dan elektronik
guna untuk menghentikan perdagangannya serta informasi Elang Jawa perlu untuk
dilindungi dan dilestarikan. Perlu membuat film dokumenter tentang Elang Jawa
dan dipublikasikan melaui stasiun TV.
Kampanye penyuluhan bagi masyarakat di
dalam atau di sekitar kawasan hutan konservasi yang dihuni Elang Jawa, harus
ditujukan untuk membangkitkan kebanggaan dan kewaspadaan masyarakat setempat.
Untuk alasan apapun tidak dibenarkan untuk menagkap Elang Jawa untuk pameran
atau untuk tujuan pendidikan.
Beberapa kebun binatang di Indonesia
ingin menagkarkan Elang Jawa. Perlu disadari bahwa penangkaran tidak mempunyai
kontribusi berarti bagi konservasi Elang Jawa. Dan penangkaran hendaknya tidak
menghabiskan dana yang akan lebih tepat bila dipergunakan untuk
pengelolaan Elang Jawa dan habitatnya di alam. Hampir dapat dipastikan
bahwa elang akan sulit berkembangbiak dalam kondisi lingkungan yang
terbatas seperti kandang penangkaran, dan apabila mereka berhasil berkembangbiak,
maka keturunannya tidak akan mampu kembali ke alam tanpa bantuan manusia
dan diperlukan pendanaan yang sangat besar. Kalaupun berhasil penangkaran
ini tidaklah menyumbang sesuatu bagi konservasi burung dialam kecuali kalau
faktor-faktor ancamannya dapat dihindari.
Elang Jawa ibarat mutiara yang
hilang, lenyap begitu saja dan tanpa jejak. Dapat dipastikan 1000 orang yang
lahir diatas tahun 2000 hanya segelintir orang yang pernah melihat elang jawa
secara langsung. Elang jawa seperti ditelan jaman, tersisa gambar dan terkabar
pilu. Adakah mereka (elang jawa) kembali hidup bebas, menikmati indahnya pulau jawa!,
sepertinya mustahil, karena elang jawa
saat ini hanya tersisa berapa ekor saja. Dalam waktu 20 tahun ke depan, tingkat
kepunahan elang jawa mencapai 20 persen.
Best Online Casinos for Malaysia: VISA, PayPal dafabet dafabet 1xbet korean 1xbet korean betway login betway login 메리트카지노 메리트카지노 온라인카지노 온라인카지노 491 The Best Virtual Casino In Singapore
BalasHapusNJ Casinos - 2021 Review of top slots - JTM Hub
BalasHapusIn 하남 출장마사지 our review of the best 과천 출장안마 casinos in 문경 출장마사지 NJ, you'll find all the top games, bonuses and promotions available. Find out which 전주 출장마사지 slot 문경 출장마사지 games offer